Sejatinya hukum sambutan memperingati Maulid Nabi telah banyak
dijelaskan oleh para ulama, mereka menyatakan bahwa memperingatan Maulid
Nabi sebagai sesuatu yang baik. Dan tidak ada ulama terdahulu yang
mengingkari peringatan Maulid Nabi Muhammad .
Salah satu
pertanyaan yang kerap mereka jadikan hujjah untuk mengingkari peringatan
Maulid Nabi adalah berkaitan dengan waktu lahir dan wafatnya Nabi.
Kelahiran Nabi Muhammad Saw terjadi pada Senin 12 Rabi’ul Awwal,
demikian pula wafatnya. Mengapa yang diperingati hari kelahiran Nabi
(maulid Nabi) bukan wafatnya Nabi?
Dalam hal ini Abuya Al Imam As
Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki memberikan jawaban dalam kitabnya
“Haul al-Ihtifal bi zikri al-Maulid an-Nabi asy-Syarif”,
ﻭﻧﻘﻮﻝ : ﺇﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﺟﻼﻝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ ﻗﺪ ﻛﻔﺎﻧﺎ ﺍﻟﺮﺩ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﻐﺎﻟﻄﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﻓﻰ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﺍﻟﺤﺎﻭﻯ.
Saya berkata, Sesungguhnya al Imam al-‘Allamah Jalaluddin as Suyuthi
sudah mencukupi kita dalam menolak kesalahan besar tersebut. Beliau
berkata dalam kitabnya Al Hawi:
إن ولادته صلى لله عليه وسلم أعظم
النعم علينا، ووفاته أعظم المصائب لنا، والشريعة حثت على إظھار شكر النعم،
والصبر والسلوان والكتم عند المصائب، وقد أمر الشرع بالعقيقة عند الولادة،
وھي إظھار شكر وفرح بالمولود، ولم يأمر عند الموت بذبح ولا غيره، بل نھى عن
النياحة وإظھار الجزع، فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن في ھذا الشھر
إظھار الفرح بولادته صلى لله عليه .وسلم دون إظھار الحزن فيه بوفاته
“Lahirnya Baginda Sollallahu ‘alaihi wa sallam merupakan paling
agungnya nikmat bagi kita, sedangkan wafatnya merupakan musibah yang
paling besar bagi kita. Syari’at mendorong untuk menampakkan syukur atas
berbagai nikmat, dan sabar tabah menghadapi berbagai musibah, syari’at
juga memerintahkan melaksanakan Aqiqah pada waktu kelahiran, dan itu
merupakan bentuk menampakan syukur dan kegembiraan dengan lahirnya
seorang anak, syari’at tidak memerintahkan menyembelih haiwan atau jenis
lainnya saat kematian, bahkan melarang perilaku niyahah (meratap).
Dalam hal ini, kaidah-kaidah syariat telah menunjukkan bahwa yang hasan
(baik) dilaksanakan pada kelahiran Nabi adalah menampakkan kegembiraan /
kesenangan dengan kelahiran beliau Saw, bukan menampakkan kesedihan
sebab wafatnya beliau Saw".
Mari kita bergembira menyambut datangnya bulan mulia ini dengan memperbanyak selawat, dzikir dan amal kebaikan lainnya.
Mari kita hidupkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad Saw sebagai bukti bahwa
kita memang benar-benar mencintai dan menjadikannya sebagai teladan yang
patut kita tiru dalam kehidupan ini.
Dan ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Jadi, sebuah kebohongan besar apabila kita mengaku cinta kepada Nabi
saw tapi enggan meneladani dan melaksanakan sunnah-sunnahnya.
Semoga kita semua dapat meneladani Nabi Muhammad saw, mengamalkan
sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, serta menghiasi diri
dengan adab-adab yang Beliau saw contohkan.
Aamin… Yaa Rabbal Aalamin.
“Wahai para ulama’ yang fanatik terhadap mazhab-mazhab atau terhadap
suatu pendapat, tinggalkanlah kefanatikanmu terhadap perkara-perkara
furu’, dimana para ulama telah memiliki dua pendapat yaitu; setiap
mujtahid itu benar dan pendapat satunya mengatakan mujtahid yang benar
itu satu akan tetapi pendapat yang salah itu tetap diberi pahala.
Tinggalkanlah fanatisme dan hindarilah jurang yang merusakkan ini
(fanatisme). Belalah agama Islam, berusahalah memerangi orang yang
menghinal al-Qur’an, menghina sifat Allah dan perangi orang yang
mengaku-ngaku ikut ilmu batil dan akidah yang rusak.Jihad dalam usaha
memerangi (pemikiran-pemikiran) tersebut adalah wajib”
(KH. Hasyim Asy'ari, al-Tibyan fi al-Nahyi ‘an Muqatha’ati al-Arham wa al-‘Aqarib wa al-Ikhwan, 33)
Oleh: Al Habib ‘Alwi bin Quthbain Al Habsyi Solo
0 comments:
Post a Comment