“Hubbul Wathon Minal Iman, Cintaku, imanku padamu NKRI. Bocah yatim yang suka menghafal nahwu itu, sejenak membuka catatan kutub wa makna, ia terlihat kebingungan, pikirannya bak semen yang diaduk. “Kiayi kenapa toh, belajar nahwu kok ngejelasin sejarah ya, wong ilmu nahwu kan berkaitan dengan seluk beluk kalam arab, kok malah lari ke tarikh ya”. Kang santri, laqabnya. Ia masih buncah dengan tafsiran sang kiayi di kelas Alfiyah tadi pagi. Jam menunjukkan arah 10, kang santri yang terbiasa melakukan shalat dhuha mengeret lengan bajunya, ia bergegas ke tempat wudhu. Sandalnya mulai bejalan ke tepi mushalla, ia begitu takut, kawan-kawanya telah kembali ke pondok. Kang santri masih gugup dengan kakinya, ia terlihat begitu cemas, “Bismillah, ia terlihat yakin. kakinya mulai masuk ke mushalla, ia pejamkan matanya, ia bergeser ke pojok kanan, mulai dilakukannya ihram dengan lafaz Allahuakbar, kang santri masih memejamkan matanya, ia laksanakan dhuha tanpa membuka matanya. Hingga salam tiba, ia semakin makin cemas dengan keadaan di sekitar. Hatinya memantulkan suara kecemasan, “semoga aja pak kiayi udah keluar ya Allah”, pungkasnya di dalam hati. Setelah wirid sejenak, ia keluar dengan hati yang masih berdebar. “Muhammad, sini dulu njenengan, kok baru shalat dhuhanya?” pungkas pak kiayi. Muhammad nama asli kang santi, begitu bergetar dengan panggilan sang kiayi, ia merunduk sembari berjalan ke arah gurunya tersebut. “Maaf yai, saya telat lagi hari ini”. “Kenapa lagi? telat karena setor bait alfiyah ya?”, tanya kiayi. “Bukan yai, hari ini saya masih belum sempat menyetor, pikiranku masih nanar tentang tarikh yang tadi yai”. “Ohhh, islam nusantara ya”, pungkas kiayi. Kang santri terlihat mengangguk. Setelah itu, kiayi mulai menjelasakan islam nusantara yang ia sisipikan di sela-sela pengajian alfiyah tadi.
“Islam nusantara adalah islam yang rahmatan lil alamain, islam yang kita anut adalah islam yang sangat moderat, ushulnya berasal dari syariat, tetapi tetap selaras dengan pancasila dan UUD 1945. Pancasila dan UUD 1945 secara tersirat terdapat dalam kalam ilahi. Para kiayi terdahulu tidak pernah mendirikan negeri islam, mereka tetap menghormati agama lain meskipun islam merupakan mayoritas di Indonesia. Para kiayi terdahulu begitu semangat dalam membela NKRI dari tangan para penjajah. Pendiri nahdatul ulama, KH Hasyim Asyari bahkan menyerukan untuk jihad kepada para seluruh santri dan masyarakat untuk melawan para penjajah yang ingin merebut Indonesia. Seluruh ulama di nusantara pada saat itu begitu besatu padu melawan penjajah demi mempertahankan ibu pertiwi. Para kiayi memperkuat armada dengan bergabung dan para tokoh bangsa seperti Ir Soekarno dan kawan-kawan. Dengan pekik “Allahuakbar”, masyarakat saat itu berjuang bersama untuk meruntuhkan tembok-tembok senjata para penjajah. Selain berjuang, para kiayi dan santri juga melakukan ritual do’a dan zikir di pondok pesantren, bagi mereka yang tidak mampu turun ke medan pertempuran. Oleh karena itu, begitu besar perjuangan dan jasa yang telah diberikan oleh para kiayi, pahlawan, serta tokoh-tokoh Indonesia yang berjuang kala itu. Di era sekarang, kita para santri, selain harus mampu menganalisa ilmu agama seperti fiqih, tauhid, tasawwuf, nahwu, balaghah, ‘arudh, mantiq, bayan dan sebagainya, kita juga harus tetap menjaga NKRI dari segala bentuk perpecahan, aliran sesat, upaya kudeta, penegakan negeri khilafah, dan lainnya dari sesuatu yang dapat merusak persatuan Indonesia. Kita merasa kehilangan sosok tokoh seperti Gus Dur, mampu menyamaratakan antara minoritas dan mayoritas dalam bidang keadilan dan hak asai dalam bernegara. Oleh karena itu, lewat slogan “Cinta tanah air sebagian dari Iman, mari kita laksanakan titah tersebut untuk mencintai dan bekerjasama untuk Indonesia.

0 comments:
Post a Comment