Tidak bisa dipungkiri, ketika kemajuan teknologi merambah
masuk dalam kehidupan manusia seiiring
dengan perkembangan zaman, dimana setiap pekerjaan dengan mudahnya
terselesaikan dengan berbagai inovasi dan kecanggihan buatan manusia yang terus
di upgrade disetiap detiknya. Orang-orang dengan mudahnya bisa terkoneksi
dengan sesama tanpa harus menempuh perjalanan ratusan kilometer untuk bertatap
muka, bermodalkan aplikasi skype di smartphone misalnya, users (para pengguna) bisa
menggunakan jasa teknologi VoIP (Voice over internet protocol) tersebut dengan
berbagai fitur canggih seperti chatting, call dan video call untuk terhubung
dengan orang lain secara gratis tanpa menggunakan provider telepon, tetapi
cukup dengan mengaskses internet yang memadai. Hal lain yang tak luput dari
pengamatan adalah bagaimana penggunaan sarana transportasi yang begitu vital
dalam kehidupan manusia modern saat ini. Jika dahulunya penduduk muslim seantero
dunia termasuk Indonesia melakukan perjalanan ke Arab Saudi guna memenuhi
panggilan Allah dalam melaksanakan ibadah Haji dan Umrah menggunakan
transportasi laut yang membutuhkan waktu berbulan-bulan, maka hal tersebut hanya
akan menjadi cerita belakang ketika berbagai maskapai penerbangan hadir dan mampu
mengantarkan para jamaah dengan waktu yang lebih cepat. Demikian juga berbagai contoh
penggunaan teknologi yang telah tersebar dan dikembangkan hingga saat ini
seperti teknologi internet, PC (personal komputer), smartphone, senjata nuklir,
satelit dan sebagainya.
Di era global, kemajuan teknologi tidak dapat dibendung
lagi seiiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Para penemu dan pengembang
semakin energik dan kreatif dalam memberikan warna baru dalam teknologi
sehingga kecanggihan dan inovasi baru terus lahir demi memuaskan kebutuhan dan
aktifitas manusia.
Umat islam harus menyadari bahwa sumber teknologi yang
telah digunakan oleh manusia di belahan dunia saat ini merupakan anugerah Allah
yang patut kita syukuri dan harus terus dikembangkan karena telah memberikan banyak
manfaat dan kemudahan dalam berbagai hal. Meskipun pengembangan teknologi saat
ini didominasi dan dimonitori oleh peradaban barat dalam satu abad terakhir,
tetapi kesemuanya tersebut jelas bersumber dari Al-Quran sebagaimana yang
termuat dalam surat Al-Anbiya ayat 80 yang artinya “ Dan telah kami ajarkan
kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihari kamu dalam
peperanganmu, maka hendaklah kamu bersyukur (Kepada Allah)”. Dari keterangan
firman Allah tersebut jelas bahwa teknologi sudah ditemukan pada zaman
nabi-nabi terdahulu walaupun dalam bentuk dan variasi yang berbeda, tetapi
jelas sumbernya telah tertera dalam kalamullah.
Ketika Al-Quran di pelajari dan ditelaah lebih mendalam
oleh bangsa-bangsa barat ketimbang oleh para ahli kitabnya sendiri (muslim),
maka disaat itulah awal mula kekalahan telak bagi umat islam untuk bersaing dalam
berbagai bidang seperti sains, teknologi, pertumbuhan ekonomi dan pertahanan
negara. Gambaran ironis jelas terukir dengan nyata bahwa negara dengan penduduk
yang bermayoritaskan muslim terlihat sangat lemah dan terbelakang khusunya
dalam bidang sains-teknologi dan penerapannya jika dibandingkan dengan
negara-negara kawasan barat. Alhasil negera-negara maju terus didominasi oleh
negara-negara yang notabenya non muslim seperti Amerika serikat, Jepang,
Inggris, Jerman dan sebagainya.
Santri
dan Teknologi
Penggunaan teknologi memang telah mendunia dan tersebar
luas dalam kalangan masyarakat, mahasiswa, pegawai kantoran, dan sebagainya.
Para penikmat teknologi cenderung lebih modern
karena pengaruh teknologi yang digunakan berdampak bagi kehidupann
mereka.
Dengan
adanya pemanfaatan teknologi, setiap pekerjaan akan terasa lebih mudah dan
cepat. Akan tetapi, tidak semua penggunaan teknologi akan menjurus kepada
dampak yang positif dalam hal penggunaannya, bahkan tidak sedikit dari
kecanggihan tersebut berimbas dengan hasil negatif yang tentunya salah digunakan
oleh para user. Sejatinya setiap hal yang diciptakan akan menjurus kedua aspek
positif atau negatif, dan itu tergantung dari pemanfaatan dan penggunaannya.
Dewasa ini,
pemanfaatan teknologi juga telah diaplikasikan oleh para santri untuk menunjang
kebutuhannya baik dalam belajar, mengajar, dan sebagai penunjang kegiatan
lainnya demi kemudahan dan ketepatan guna. Penggunaan teknologi oleh para
santri menunjukkan sebuah revolusi tradisional kepada modern agar santri juga
bisa bersaing dan melek terhadap kecanggihan teknologi (IT) dalam persaingan
dunia global.
Menarik
untuk disimak bahwa kebanyakan dayah di Aceh masih kental dengan lingkungan
orisinil (tulen) akan warna dan corak tradisionalnya sehingga aroma khas
kedayahan di zaman-zaman terdahulu masih bisa kita rasakan. Ada sebagian oknum berpendapat bahwa jika dayah terus menganut
sistem tradisional dan jauh dari kemoderenan, maka para lulusan dayah diprediksikan
akan gagal bersaing dengan derasnya aliran perkembangan zaman. Padahal hal
tersebut bisa dikatakan hipotesa semata, karena banyak santri-santri dayah yang
sudah di berikan training (pelatihan) tentang bagaimana penggunaan teknologi
yang sedang berkembang saat ini, bahkan tak
jarang dari para santri tersebut menuai prestasi dalam pemanfaatan dan
penggunaan teknologi (IT).
Pengenalan,
pemanfaatan dan penggunaan teknologi di dayah jelas berbeda dengan beberapa
lembaga lainnya, para santri yang berada di kelas awal cenderung tidak
diperbolehkan untuk menggunakan kecanggihan teknologi karena bisa jadi tidak
sinkron dalam penggunaanya. Mereka harus menunggu hingga setidaknya duduk di
kelas 3 atau bahkan hingga selesai/lulus dalam kelas teratas supaya bisa masuk
dalam dunia teknologi. Hal ini jelas tergantung masing-masing dayah dalam hal
menerapkan aturan tersebut. Akan tetapi, yang perlu di ingat bahwa tidak semua
dayah mengajari para santrinya menggunakan teknologi, bahkan dominannya dayah
di Aceh, Pemanfaatan teknologi tidak masuk dalam kurikulum dayah karena peran
dan fungsi lembaga ini secara umumnya dapat digambarkan sebagai tempat
pembekalan ilmu agama bagi para santri melalui kitab-kitab yang telah
terbingkai seperti kitab fiqih, tasauf, tauhid, dan kitab-kitab alat lainnya. Sangat
jelas bahwa kemantapan teknologi sebenarnya tidak ada hubungan dengan visi dan
misi dayah, akan tetapi kebutuhan tersebut bisa dikatakan sebagai kebutuhan
tersier (ketiga) setelah kebutuhan premier dan sekunder. Dan tentunya para
santri bisa mempelajari pemanfaatan teknologi melaui lembaga-lembaga khusus.
Untuk
mengarungi sulitnya tantangan zaman, para santri di Aceh disarankan agar
setidaknya menguasai ilmu-ilmu dasar IT atau bahkan hingga ke level yang lebih
tinggi serta ikut berperan dalam memajukan dan mengembalikan Aceh ke era
kejayaan seperti dahulunya. Zaman tentu terus berubah, para santri harus ikut
andil dan menjadi pioneer (pelopor) dalam berbagai bidang dan itu termasuk
pemanfaatan dan kecakapan dalam bidang teknologi.
0 comments:
Post a Comment